Ringkasan Buku ”Mengajar Untuk Mengubah Hidup”

mengajar untuk mengubah hidup

Mengajar untuk Mengubah Hidup oleh Horward G. Hendricks, Kotabaru, Yogyakarta: Yayasan Gloria, 2013. 12 + 50 halaman.

Horward G.Hendricks adalah seorang pengajar terkenal dan ketua Center for Christian Ledership di Dallas Theological Seminary. Dalam bukunya ini Horward menguraikan tujuh prinsip terpercaya dan mudah dipahami yang bisa diterapkan oleh semua pengajar. Horward membahas bagaimana kita sebagai seorang pengajar menjadi sangat efektif dan berpengruh.

Dalam pembahasannya, Horward memaparkan tujuh konsep mengajar yang strategis. Dimulai dengan hukum pengajar(teacher), hukum pendidikan (education), hukum kegiatan (activity), hukum komunikasi (communication), hukum hati (heart), hukum motivasi (encouragement) dan hukum kesiapan (readiness). Dan Howard mengakhirinya dengan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang sangat membantu kita untuk menerapkan ketujuh hukum ini.

Horward memulai pembahasannya dengan hukum pengajar. Seorang pengajar yang efektif  bagi Horward adalah seorang pengajar yang mengajar dari limpahan hidupnya. Seorang pengajar harus mengetahui akan apa yang dia ajarkan, jadi seorang pengajar juga perlu belajar sebelum dia mengajar. Pengajar perlu meningkatkan kemampuan mengajarnya, agar ia dapat mengubah hidup seseorang dengan apa yang dia ajarkan. Dalam lukas 6:40 mengatakan ‘’Barangsiapa telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya’’ mengapa Yesus mengatakan seperti ini? Karena kebanyakan guru sudah tidak belajar lagi mereka hanya mengajar apa yang sudah ada dari dulu sampai sekarang mereka tidak berusaha mempelajari hal-hal yang baru. Untuk itu kita perlu menyadari akan hal ini  agar apa yang kita ajarkan dapat mengubah hidup seseorang.

Yang kedua Horward membahas tentang hukum pendidikan. Seorang pengajar tidak hanya memperhatikan akan apa yang diajarkan, tetapi ia juga harus mengenali, orang-orang yang dia ajarkan, sehingga bisa menciptakan kondisi-kondisi yang menyenangkan untuk orang yang dia ajarkan, karena cara orang belajar menentukan bagaimana Anda mengajar. Inilah yang menjadi hukum pendidikan. Dalam mengajar kita tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tapi bagaimana kita bisa menggugah orang untuk mencari pengetahuan, kita harus menggairahkan dan dapat mengarahkan pembelajar untuk belajar mandiri sehingga kita dapat melihat apa yang dilakukan oleh orang yang kita ajar, sebagai hasil ajaran kita.

Ketiga Horward membahas tentang hukum kegiatan. Dia mengatakan bahwa kita sebagai pengajar adalah seorang komunikator bukanlah untuk membuat orang terkesan, dan untuk meyakinkan mereka, tetapi bagaimana pengajaran kita dapat mengubah mereka. Pendidikan kristiani, saat ini terlalu pasif. Padahal kekristenan merupakan kekuatan yang dapat mengubah orang dengan ajaran-ajarannya. Tetapi jarang sekali ini di wujudnyatakan. Gereja dalam kekristenan banyak menolak perubahan-perubahan yang seharusnya diwujudnyatakan dalam Roma 8 setiap orang percaya sudah ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Yesus Kristus.

Keempat Horward membahas tentang hukum komunikasi. Berkomunikasi memang tidak mudah. Tetapi jika kita dapat berdoa dengan hal itu dengan bersungguh-sungguh dalam menyampaikan informasi maka kita harus membangun jembatan dulu. Misalnya saja dalam kita membertikan Injl kepada orang-orang yang belum percaya akan Yesus maka kita harus membangun jembatan dengan mereka dulu, entah itu melalui cara kita berbicara dengan mereka, bagaimana agar mereka dapat menerima kita. Sesuai dengan misi seorang pengajar yang adalah menggugah pikiran murid, merangsang otak mereka dengan simpati, dengan teladan dan dengan setiap sarana pengaruh, melalui berbagai objek yang bisa ditangkap indra, serta fakta yang bisa dipikirkan.

Kelima Hendricks membahas tentang hukum hati. Mengajar yang berdampak bukanlah dari kepala ke kepala, tapi dari hati ke hati. Itulah hukum hati, dan hukum ini memang benar selama Anda memahami arti kata hati yang Alkitabiah. Kata hati adalah salah satu kata yang memiliki banyak arti, dan pada sekarang ini kata itu cenderung dipakai secara kurang tepat, tidak seperti yang dimaksud dalam perjanjian lama. Misalnya dalam Ulangan 6:4-6 ‘’Musa berkata, dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan’’. Bagi orang ibrani, hati mencakup seluruh pribadi manusia. Pikiran, perasaan dan kehendak seseorang. Dengan demikian proses mengajar adalah proses seluruh pribadi seseorang yang diubahkan oleh anugerah supernatural Allah, yang memancarkan keluar untuk mengubah pribadi-pribadi lain dengan anugerah yang sama, sungguh hak yang istimewa. Mengajar dengan kepala sangatlah mudah, tetapi mengajar dengan hati jauh lebih sulit, tapi pasti akan lebih bermanfaat. Dan itulah mengajar yang dapat mengubah hidup.

Keenam Horward membahas tentang Hukum motivasi. Dari pengalamannya saat dia mengajar dia yakin bahawa MQ seseorang atau kecerdasan motivasi lebih penting dari, IQ atau kecerdasan intelektualnya. Karena banyak mahasiswa yang mampu tetapi kurang penerapannya, karena tidak ada yang menerima dan mengarahkan kecakapan dan energi mereka. Sehingga mereka jadi tidak termotivasi untuk mengaplikasikan diri. Untuk itu pentingnya hukum motivasi yang mengatakan bahwa mengajari cenderung menjadi sangat efektif ketika pembelajar termotivasi dengan tepat. Karena ada motivasi yang kurang atau motivasi yang tidak benar, sehingga menimbulkan hasil yang rusak. Untuk itu kita perlu berhati-hati dengan kata-kata yang diucapkan kepada orang lain sebagai sarana motivasi.

Ketujuh Horward membahas tentang hukum kesiapan, proses mengajar, belajar paling efektif ketika pengajar maupun yang diajar telah dipersiapkan secara memadai. Banyak murid yang datang kekelas tanpa minat belajar. Hukum kesiapan memberi dasar filosofi untuk pemberian tugas-tugas. Pemberian tugas-tugas mempunyai manfaat bagi para siswa. Seorang pengajar harus menjadi pemicu salah satu cara agar orang lain dapat bergairah dengan Firman Allah secara pribadi adalah dengan memotivasi mereka agar mengalaminya sendiri terlebih dahulu secara nyata. Kita harus menjadi seorang pengajar  yang tidak mudah ditebak, karena menurut penelitian, orang yang makin mudah ditebak makin kecil dampaknya oleh karena itu, kita sebagai pengajar harus mempunyai kesiapan untuk mengajar sehingga apa yang kita ajarkan dapat membuat perubahan bagi orang yang diajar.

Hukum-hukum ini adalah prinsip-prinsip dasar yang selalu terangkul dalam struktur mengajar yang efektif. Tetapi ini hanyalah prinsip. Dalam melaksanakan tujuannya, yang Allah pakai bukanlah prinsip tetapi Allah memakai orang. Allah memakai Anda sebagai katalisator, dan Allah akan memakai kita bila kita mau mempersilakannya mengubah dan memperbarui pikiran kita. Apakah Anda bersedia? Komitmen ini merupakan langkah maju terbesar dalam keberhasilan mengajar Anda. Buku ini sangat berguna jika Anda menjadikan ini sebagai tindakan nyata.

Buku ini sangat bermanfaat bagi semua orang, baik orang tua, guru, maupun pendeta. Supaya kita bisa mengajar untuk mengubah hidup orang lain. Tidak hanya sekedar mengajar untuk mengisi intelektualnya, tetapi bagaimana agar pelajar dapat berubah. Terutama bagi kita orang kristen agar kita dapat mengajarkan tentang kristus kepada orang lain dengan baik. Buku yang sangat baik dan layak dibaca.

 

Iklan

SALING MENASEHATI

unknown-1

Ibrani 3:13:

‘’Tetapi nasehatilah seorang akan yang lain setiap hari selama masih dikatakan hari ini, supaya jangan ada di antara kamu yang tegar hatinya karena tipu daya dosa.’’

Penulis ibrani memberikan surat kepada jemaat agar mereka saling menasehati. Menasehati bukan hanya saat mereka menerima surat ini tetapi setiap hari selama mereka masih hidup.

Berbicara mengenai nasehat, merupakan hal yang umum. Semua orang tahu. Tetapi tidak semua orang suka dengan namanya nasehat. Orang lebih sering tidak mendengarkan nasehat dan juga tidak suka menasehati. Karena berbagai macam alasan. Ada yang mungkin tidak suka dinasehati karena merasa orang yang memberikan nasehat tidak lebih baik dari kita. Ada yang tidak suka dinasehati karena merasa orang itu lebih mudah darinya (dianggap sok tahu). Tidak suka dinasehati karena itu menyinggung atau membuat pribadi kita seperti direndahkan dan lain sebagainya. Ada yang tidak suka menasehati atau takut menasehati karena merasa tidak lebih baik dari orang lain, tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, takut ditolak, dimarahi dlsb.

Agatha Christie seorang penulis fiksi kriminal inggris pernah berkata ‘’nasihat yang baik mungkin akan diabaikan tapi itu bukan alasan untuk tidak memberikannya.’’ Kita mungkin takut memberikan nasehat karena ditolak, dimarahi, dlsb. Tetapi Agatha mengatakan seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk tidak memberikan nasehat. Karena nasehat itu penting.

Hock Wilson pemain bisbol Amerika juga mengatakan ‘’dalam hidup, Anda membutuhkan lebih banyak hal selain bakat. Yaitu nasehat yang baik.’’ dalam Amsal 11:14, mengatakan ‘’jikalau tidak ada pemimpin jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasehat banyak keselamatan ada.’’ Dari sini kita mengetahui bahwa nasehat penting bagi kehidupan kita, meskipun kita sering tidak menyukainya.

Penulis surat ibrani memerintahkan jemaat yang menerima surat ini untuk saling menasehati. Dalam ayat 12, ia menyuruh mereka untuk waspada supaya diantara mereka jangan ada yang hatinya jahat, dan tidak percaya karena murtad dari Allah. Jemaat yang menerima surat ibrani saat itu sedang mengalami masalah yang sangat berat. Mereka dihina didepan umum, harta benda mereka dirampas. Sehingga ada yang sudah tidak ikut ibadah. Karena ternyata Kristus tidak segera datang seperti yang mereka harapkan. Untuk menyelamatkan mereka dari siksaan. Dalam kondisi mereka yang seperti ini penulis surat ibrani menasehati mereka agar jangan ada yang tidak percaya lagi karena kesulitan yang mereka alami. Dan ia lanjutkan dalam ayat 13 bagaimana caranya supaya mereka tidak murtad dari Allah atau supaya hati mereka tidak jahat. Yaitu, dengan saling menasehati.

Nasehat disini artinya, mendesak seseorang untuk berusaha lebih keras. Dalam keteguhan iman mereka, agar mereka tetap memepercayai Allah dalam kesulitan yang dialami. Sebab diantara mereka ada yang sudah mulai goyah dalam imannya kepada Allah. Maka dari itu mereka perlu saling menasehati/menghibur/mendorong. Supaya hati mereka tidak menjadi tegar karena tipu daya dosa, supaya mereka tetap percaya kepada Allah, dan hati mereka tidak menjadi jahat. Hingga pada akhirnya, Kristus akan menyelamatkan semua yang percaya kepada-Nya ketika Ia datang kembali.

Aplikasinya:

Dari uraian diatas kita tahu bahwa saling menasehati dapat membuat kita teguh dalam iman kita.

Saling menasehati membantu kita dapat belajar untuk tidak menjadi tegar karean tipu daya dosa.

Saling menasehati membuat kita dapat saling membangun.

Untuk itu kita perlu memberanikan diri untuk menasehati, dan juga dinasehati. Dengan begitu akan membuat kita semakin bertumbuh dalam kehidupan kita.

1 Tesalonika 5:14 mengatakan, ‘’kami juga menasehati kamu, saudara-saudara tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.’’ Dalam bagian lain dikatakan, kalau kita menegur kita harus menegur mereka sebagai saudara kita. bahkan ada aturan-aturannya juga, kalau menegur pertama dengan empat mata. Kalau belum mengaku/menyadari kesalahannya, bawa 1-2 orang saksi. Kemudian jika belum lagi, bawah kepada banyak orang (Matiur 18:15-17).  Jadi Ada cara-cara untuk menasehati. Dalam Amsal dikatakan ‘’seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya  perkataan yang tepat pada waktunya!’’

Kiranya lewat renungan ini kita dapat memiliki keberanian untuk memberikan nasehat dan menerima nasehat dari orang lain untuk membangun kehidupan kita menjadi teguh dalam iman dan tidak berkanjang dalam dosa. AMIN

Pemurnian Jiwa Menurut John Cassians Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

johncassian

Fransiska Dune

Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto

dunefransiska@gmail.com

Abstract

This article is a review of purification of the soul in the view of John Cassians in the book Philokalia. The Philocalia is a collection of texts written between the fourth and fifteenth centuries by monks and Church Fathers in orthodox Christian traditions. Soul purification is a struggle against eight sins in the body and mind of believers with spiritual discipline so that our lives reflect the children of God who do the truth to be like Christ. There are 3 main points of discussion, namely the cause of eight sins, the process of purifying the soul and the results of purification of the soul. the cause of the eight sins discussed by John Cassian is because humans love themselves. The process of purifying the soul is a struggle against sin in the body and mind of a believer so that people do not submit to their bodies and desires. The result of repentance is to reflect life as children of God who are increasingly similar to Christ.

Keywords: soul purification; philocalia; spiritual discipline; sin; children of God; Christ.

Abstrak

Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang pemurnian jiwa menurut pandangan John Cassians dalam buku Philokalia. Philokalia adalah kumpulan teks yang ditulis antara abad keempat sampai kelima belas oleh para rahib dan Bapa Gereja dalam tradisi kristen ortodoks. Pemurnian jiwa adalah perjuangan melawan delapan dosa dalam tubuh dan pikiran orang percaya dengan kedisiplinan rohani sehingga hidup kita mencerminkan anak-anak Allah yang melakukan kebenaran menjadi serupa dengan Kristus. Ada 3 hal pokok pembahasan yaitu penyebab delapan dosa, proses pemurnian jiwa dan hasil permurnian jiwa. penyebab delapan dosa yang dibahas John Cassian adalah karena manusia mencintai diri sendiri. Proses pemurnian jiwa adalah perjuangan melawan dosa dalam tubuh dan pikiran orang percaya sehingga manusia tidak takluk pada tubuh dan keinginannya. Hasil pertobatan adalah mencerminkan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang semakin serupa dengan Kristus.

Kata Kunci: pemurnian jiwa; philokalia; kedisiplinan rohani; dosa; anak-anak Allah; Kristus.

 

PENDAHULUAN

                Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang pemurnian jiwa yang ditulis oleh John Cassian[1] di dalam Philokalia.  Philokalia adalah kumpulan teks yang ditulis antara abad keempat sampai kelima belas oleh para rahib atau biarawan dari tradisi Kristen Ortodoks.[2]  Philokalia disusun pada abad kedelapan belas oleh dua biarawan Yunani, St. Nikodemus dari Gunung Suci Athos (1794-1809) dan St. Makarios dari Korintus (1731-1805), dan pertama kali diterbitkan menjadi buku di Venesia pada tahun 1782. Edisi kedua diterbitkan di Athena pada tahun 1893, dan ada penambahan teks tentang doa oleh Partiark Kallistos yang tidak ditemukan di edisi 1782. Edisi ketiga, dalam lima jilid, juga diterbitkan di Athena selama tahun 1957-1963 oleh Astir Publishing Company. Semua teks dalam Philokalia ditulis dalam bahasa Yunani, kecuali dua jilid yang pertama ditulis dalam bahasa Latin dan diterjemahkan ke bahasa Yunani pada zaman Bizantium. Dalam tulisan ini penulis menggunakan terjemahan bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan kallistos Ware berdasarkan edisi ketiga.

Philokalia itu sendiri berarti cinta akan yang cantik, agung, sangat bagus, indah dan dimengerti sebagai sumber kehidupan rohani dan wahyu kebenaran. Teks-teks Philokalia dikumpulkan dengan maksud untuk kesempurnaan spritualitas orang beriman. Philokalia menunjukan jalan untuk membangun dan mengembangkan perhatian dan kesadaran demi mencapai kewaspadaan dan kesempurnaan spritualitas yang merupakan tanda kesucian.[3]

Mengapa John Cassians? Pertama, topik pemurnian jiwa dibahas secara khusus oleh Jhon cassians. Kedua, Jhon Cassians memberikan pengajaran mengenai pemurnian jiwa dengan delapan langkah yang mudah dipahami jemaat dan merupakan apa yang dialami jemaat. Ketiga, pemurnian jiwa yang dibahas Jhon Cassians, merupakan gabungan dari pengajaran para Bapa Gereja.[4]

Mengapa topik pemurnian jiwa ini penting diulas? Ada tiga alasan yang mendasarinya. Pertama pemurnian jiwa adalah salah satu cara untuk mengerjakan keselamatan. Dalam  Kekristenan keselamatan merupakan peristiwa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Manusia diselamatkan ketika meresponi kematian Kristus dengan iman melalui karya Roh Kudus, ini adalah peristiwa masa lampau (Rom 6:3-11). Namun sekalipun manusia sudah diselamatkan di dalam Yesus Kristus manusia masih hidup dalam rahmat keselamatan dalam peristiwa yang sedang terjadi masa kini yaitu setiap orang ‘’sedang diselamatkan’’ oleh ketaatan hidup dan perjuangan melawan hawa-nafsu untuk mencapai kekudusan dimana ia ‘’diperbaharui dari hari kehari’’, hingga pada akhirnya akan diselamatkan dari murka Allah dan masuk dalam kemuliaan Allah (keselamatan pada masa akan datang).[5] Setiap orang yang sedang diselamatkan berada dalam Kristus dan Kristus dalamnya maka dia akan mengalami purification yaitu pemulihan/pemurnian.[6]

Kedua pemurnian jiwa/hati penting karena hati adalah tempat pertemuan antara diri kita dengan Allah. Allah tidak berada jauh dari kita. Dia ada di dalam hati kita. Hati kita menjadi tempat berdiamnya Allah sebab kita adalah Bait Allah (1 Korintus 3:17). St Agustinus mengatakan “Where can we find Him? Not on earth, for he is not here. And not in heaven, for we are not there. But in our own hearts we can find him. He ascended to heaven openly so that He could come back to us inwardly, and never leave us again.”[7]

Ketiga pemurnian jiwa penting karena jiwa/hati adalah salah satu dari karunia-karunia Allah paling besar. Js Makarios dari Mesir menggambarkannya sebagai berikut.

Hati itu memerintah seluruh tubuh dan apabila kasih-karunia/rahmat yaitu energi ilahi memiliki hati, maka akan memerintah atas seluruh pikiran. Ini dikarenakan hati adalah tempat akal-budi dan pemikiran-pemikiran itu ditemukan. Sebagaimana dikatakan Kitab Suci: ‘’…berkatalah…dalam hatinya…Yesus mengetahui pikiran mereka…’’ (Matius 9:3-4), ‘’…dari hati orang timbul segala pikiran…’’ (Markus 7:21). “Akal-budi dari roh” atau “Nous” termasuk di dalam hati itu, namun hati itu jauh lebih besar dari Nous itu. Disamping Nous yang olehnya kita mengenal Allah, yang termasuk dalam Hati/ Kalbu atau Kardia itu adalah “Karsa/ Kehendak/ Kemauan”, yaitu “Kehendak” yang terkait dengan Nous untuk dapat memilih untuk mengikuti perintah-perintah Allah. Juga termasuk dalam Hati adalah sifat kemampuan untuk mengasihi dan rindu akan Allah. Dengan demikian tiga sifat kemampuan Hati itu dirancang untuk ‘mengetahui’ Allah dengan Nous; untuk ‘mengasihi ‘ Allah dengan Hati itu sendiri, untuk ‘memilih secara bebas’ untuk mrngikuti Allah dengan Karsa/Kehendak/Kemauan.[8]

Para Bapa Gereja menyebutnya sebagai ‘’ruang penerimaan akan Tuhan’’ dapat juga menjadi tempat tinggal kejahatan dan dosa. (Markus7:21-23) : apa yang para dokter jiwa sebut sebagai alam bawah sadar, tempat yang digambarkan begitu baik oleh Rasul Paulus, ketika dia berbicara hukum daging didalam dirinya yang melawan hukum akal budi/nous (Roma 7:1825).Hati/kalbu yang sama yang dalamnya Allah mencurahkan kasihNya oleh Roh Kudus: ” Karena kasih Allah telah dicurahkan didalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Roma5:5) hati yang sama ini pula dapat menjadi tempat roh-roh jahat/iblis (Kisah Rasul 5:3).[9]

Dalam hati terkubur segala sesuatu yang pernah kita lakukan maupun semua hawa nafsu yang telah kita warisi sebagaimana Yesus katakan dalam Markus 7:21-23.[10] Oleh karena itu penting sekali orang percaya memurnikan jiwa/hatinya. Jhon Cassians memberikan delapan langkah yang membawa orang percaya menuju pemurnian jiwa/hati. Yaitu dengan mengontrol perut, melawan iblis ketidak sucian, iblis keserakahan, kemarahan, kekecewaan, kemalasan, rendah diri, dan kesombongan.[11] Dan ini menjadi tugas gereja untuk memberikan pengajaran pemurnian jiwa yang komprehensif dan aplikatif bagi jemaat.

Artikel ini akan membuktikan bahwa pemurnian jiwa menurut John Cassians adalah perjuangan melawan delapan dosa dalam tubuh dan pikiran orang percaya dengan kedisiplinan rohani sehingga manusia batiniah semakin dibaharui dan manusia lahiriah mengalami pengudusan semakan serupa dengan Kristus dan mencerminkan kehidupan sebagai anak-anak Allah. pemurian jiwa didalam artikel ini adalah pemurnian jiwa setiap hari sampai menjadis erupa dengan Kristus. Ada dua bagian pokok yang akan dibahas yaitu proses pemurnian jiwa dan hasil pemurnian jiwa.

METODOLOGI

                Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang pemurnian jiwa menurut John Cassians. Peneliti mengulas setiap pandangan John Cassians tentang pemurnian jiwa dan mencari benang merah dari setiap pemikiran John Cassian sehingga terbentuk sebuah konsep pemurnian jiwa. Di dalam ulasan peneliti juga berinteraksi dengan St. John Damascus dan teks-teks dalam Alkitab. Konsep pemurnian jiwa merupakan temuan akhir yang diharapkan dari artikel ini. konsep ini terdiri atas sebuah ide utama dan beberapa ide pendukung.

ANALISIS DAN HASIL

Pemurnian Jiwa Menurut John Cassian

Konsep pemurnian jiwa menurut John Cassians adalah perjuangan melawan delapan dosa dalam tubuh dan pikiran orang percaya. Untuk memurnikan jiwa orang percaya harus terus menerus memperbaharui pikiran untuk dipimpin oleh Roh sehingga kehidupan spritual orang percaya tidak terhalangi oleh dosa. melalui kehidupan spritualitas orang percaya memiliki hubungan dan relasi yang dekat dengan Allah untuk mencapai cinta yang sempurna, melalui rahmat dan belas kasihan Tuhan Yesus Kristus, yang adalah kemuliaan segala zaman.

                Penjelasan berikut ini akan terbagi menjadi 3 bagian. Pertama, penyebab adanya delapan dosa yang dibahas John Cassians yaitu karena kejatuhan manusia dalam dosa membuat manusia mencintai dirinya sendiri. kedua proses pemurnian jiwa dengan melakukan disiplin rohani untuk melawan dosa baik dalam tubuh maupun pikiran orang percaya. ketiga hasil pemurnian jiwa yaitu manusia mencerminkan kehidupannya sebagai anak-anak Allah dengan menjadi semakin serupa Kristus.

Penyebab Adanya Delapan Dosa Yang Di Bahas John Cassians

                Ada dua hal yang menjadi penyebab adanya delapan dosa yang di bahas John Cassians dalam setiap manusia. yaitu:

  1. Cinta Diri

Alkitab mengajarkan bahwa dosa di mulai dengan pelanggaran Adam di taman eden[12] (Kejadian 3) membuat mereka di usir dari taman eden. Dosa itu membawa kekotoran yang permanen dan karenanya persatuan dalam seluruh umat manusia akan di pengaruhi bukan hanya Adam saja tetapi juga seluruh keturunannya.[13] Gregory Palamas mengatakan bahwa ketika Adam melanggar apa yang diperintahkan Allah, Adam mengalami kematian. Yaitu terpisah dari Allah. Jiwanya mati. In paradise the death of the soul came first and the death of the body followed.[14]

Geregory mengatakan  kematian adalah The soul’s withdrawal from divine grace and its attachment to sin. Ketika kita terpisah dari Allah yang tadinya kita hidup dengan berfokus pada Allah kini berubah menjadi berfokus pada diri sendiri.[15] Tidak mengasihi Tuhan hanya mengasihi diri sendiri.[16]  Paulus menuliskan dalam 2 Timotius 3:1-5 demikian ‘’ketahuliah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua, dan tidak tahu berterimakasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!’’ Paulus memberikan gambaran keadaan pada akhir zaman yaitu orang akan mencintai diri sendiri. Mereka hanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus (Filipi 2:21; Mazmur 10:3). Mereka hidup dengan menuruti hawa nafsunya (2 Petrus 2:10; Roma 1:29-30; Roma 1:31).

Bapa-bapa Gereja mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran semacam itu adalah benih dari hawa nafsu yaitu dorongan yang muncul dari alam bawah sadar dan segera menjadi kekuatan yang mencengkram. Mereka menyebutnya dengan Logismoi yang adalah pemikiran yang disebabkan oleh roh-roh jahat.[17]

  1. Hukum Dosa

Manusia yang merupakan gambar Allah memiliki roh (spirit; pneuma) dan jiwa (soul; psyche) sebagai satu kesatuan, dan tubuh (soma).[18] Jiwa manusia memili Nous, logos dan pneuma. Logos adalah manifestasi dari Nous. Logos adalah reason atau pikiran manusia yang bekerja memerintah otak dan dari otak memerintah anggota tubuh manusia. seluruhnya tertampung dalam suatu wadah yaitu hati (kardia). Didalam hati tersimpan berbagai memori manusia yang tertampung di dalam logos manusia. Hati ini ibarat lemari batin manusia yang di dalam terdapat dua kekuatan besar (Roma 7:21-23) yaitu hukum Allah dan hukum dosa yang berasal dari tubuh atau daging.[19]

Tubuh memiliki keinginan atau kebutuhannya seperti makan, sex, pakaian, materi atau uang untuk melindungi tubuh, istirahat, refreshing, dan sebagainya. Keinginan tubuh atau daging ini sebetulnya normal atau baik karena memang di rancang oleh Allah demikian.[20] Para Bapa Gereja juga mengatakan hal ini Not all passions are bad. There are both natural and unnatural passions. Our natural passions are our appetite for food, enjoyment of food, fear and sadness. These are necessary for our the preservation of our nature.[21]

Kejatuhan manusia  dalam dosa (Roma 3:23) membuat keinginan daging yang wajar menjadi tidak wajar karena melanggar hukum Allah (1 Yohanes 3:4) seperti keinginan makan menjadi distorsi dalam wujud gluttony atau keserakahan akan makanan.[22] Bapa Gereja menjelaskan Often these natural passions which are intended for earthly preservation are transformed into unnatural passions. They are frequently transformed into a mistaken quest for the infinite in things of this material world. The soul loses control and the passions take over.[23]

Perbuatan ini berasal dari keinginan daging dan dosa ini tersimpan di dalam lemari batin kita yang disana juga terdapat hukum Allah. jadi memang di dalam perangkat batin kita ada hukum Allah yang tertulis di dalam hati (superego) dan sekaligus ada hukum dosa atau id yang tersimpan rapi di dalam hati.[24]

Ketika kita tidak bisa menguasai hati kita maka godaan iblis itu akan masuk menguasai lemari batin kita seperti yang di alami Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:3) dan membelenggu kita dalam hukum dosa (Roma 7:23). Yesus menjelaskan bahwa dari dalam hati timbul segala pikiran jahat (Markus 7:21). Pikiran jahat ini adalah logismoi yang timbul dari lemari batin kita yang sudah di kuasai oleh iblis yang wujudnya dalam bentuk 8 kejahatan yang di bahas John Cassians. Logismoi ini yang menyeret dan memikat kita sehingga kita di tawan olehnya dan apabila kieinginan daging itu di buahi maka akan melahirkan dosa dan dosa yang sudah matang akan melahirkan maut atau kematian (Yakobus 1:14-15).[25] Seperti yang dijelaskan oleh Coniaris, “To overcome passions, one must struggle with thoughts (logismoi), because it is thoughts that arouse the passions. Thoughts are the seeds of the passions, those impulses that emerge from the subconscious and soon become obsessive.”[26]

 

Proses Pemurnian Jiwa

Proses pemurnian jiwa dilakukan dengan melakukan disiplin rohani (Askesis). Disiplin rohani merupakan latihan bagi orang percaya untuk melawan keinginan daging, dosa dan segala bentuk tipuan iblis yang berdasarkan kasih kepada Allah, yang aktualisasinya kepada sesama.[27] Latihan ini penting bagi orang percaya supaya tidak lagi hidup dengan mementingkan hal-hal duniawi dan memiliki sikap yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi.

Askesis menolong orang percaya untuk melihat lebih dalam yaitu di dalam dirinya, membantu dan menjaga jiwanya terhadap segala hawa nafsu jahat. Hawa nafsu jahat itu menyangkut hawa afsu yang di tunggangi iblis dengan berbagai tipu daya u ntuk menjauhkan manusia dari perkenanan Allah. Askesis melatih diri manusia supaya terus berjaga-jaga pada pintu jiwa dengan disiplin hidup, mengontrol pikiran-pikiran, melawan keinginan daging. Jadi askesis dapat membantu orang percaya supaya tidak mudah jatuh dalam dosa. Maka dari itu Cassians mengajarkan kita untuk melawan delapan dosa ini dengan berbagai macam askesis. Diantaranya:

  1. Kerakusan Dengan Puasa

Makan adalah salah satu kebutuhan alami manusia, meskipun demikian kebutuhan alami manusia ini berubah menjadi kebutuhan yang tidak wajar setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.[28] Ketidak wajaran kebutuhan makan manusia, salah satunya adalah makan terlalu banyak atau makan berlebih, membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Billy Graham menyebutnya sebagai salah satu dari tujuh dosa maut; di sejajarkan oleh tokoh-tokoh Gereja dengan kecongkakan, cemburu dan ketidaksenonohan. Cassians mengatakan kerakusan terhadap makanan adalah salah satu dosa yang menjadi penghalang pemurnian jiwa orang percaya.

Makan terlalu banyak adalah dosa yang kita semua lakukan, tetapi hanya sedikit diantara kita meyebutnya dosa. Kelahapan mengisi perut berlebih-lebihan dan menyenangkan diri dengan makanan hingga melebihi batas, dikecam sama tajamnya dengan dosa-dosa lain yang mengukung manusia. [29]  Dalam Filipi 3:19 kita baca: ‘’Kesudahan mereka ialah kebinasaan, tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju pada perkara duniawi.’’ Disini, mengisi perut berlebih-lebihan disamakan dengan materialisme,’’ pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.’’

Cassians memberikan satu jenis puasa yang bermanfaat untuk pemurnian jiwa yaitu, dengan memilih satu hari untuk berpuasa.[30] Cassians mengatakan bahwa  seseorang yang berpuasa terlalu lama, sering berakhir dengan makan terlalu banyak makanan yang menyebabkan lamban dalam latihan spritualnya. Cassians juga menganjurkan agar orang percaya memakan makanan yang diperlukan tubuh mereka bukan yang mereka inginkan. Makan makanan untuk kesehatan dan menghindari makanan berlebih. Selain itu puasa yang dilakukan harus disertai dengan doa dan berja-jaga, membaca kitab suci dan memusatkan hati pada ketakutan terhadap neraka dan kerinduan akan kerajaan surga.[31]

  1. Ketidak Sucian Dan Keinginan Daging Dengan Pengendalian Diri Dan Berjaga-jaga

Pengendalian diri dapat dilakukan tidak hanya kepada hawa nafsu seksual kita saja, tetapi juga terhadap segala hawa nafsu. Cassians mengatakan bahwa untuk kita dapat mengendalikan diri pertama-tama kita harus berhati-hati menjaga hati kita, karena menurut Tuhan dari hati timbul pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, ketidaksucian dan lain sebagainya (Markus 7:21), maka dari itu kita perlu menjaga hati kita.[32]

Petrus dalam suratnya (1 Petrus 5:8), mengatakan ‘’sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu siiblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya.’’ Kita perlu menjaga hati kita dari iblis karena setiap saat iblis akan terus mencari cela dimana ia dapat masuk kedalam hati kita. Js Syngletiki menasihati: “Meskipun kalau kita tidak mengingininya, pencuri2 itu akan masuk melalui indra2 kita. Karena bagaimana mungkin suatu rumah tidak digelapkan oleh asap, yang masuk dari luar, melalui jendela2 dan pintu2 yang telah ditinggalkan terbuka? “[33] Evagrius mengingatkan: “Jadilah penjaga pintu bagi hatimu dan jangan biarkan pemikiran apapun masuk tanpa mempertanyakannya. Tanyailah masing2 pemikiran masing2 satu per satu: Apakah engkau dipihak kami atau dipihak musuh-musuh kami?” Dan jika itu adalah yang dipihak kita, maka itu akan memenuhimu dengan keteduhan”. Maka dari itu kita perlu pikiran Kristus dalam Nous kita untuk menjadi penjaga bagi pikiran-pikiran jahat yang ingin masuk dalam hati kita. Kita harus melemparkannya keluar dan oleh kasih karunia Kristus hati kita akan tetap tinggal murni. Sebab Kristus yang menjadi nahkoda jiwa kita.[34]

  1. Keserakahan Dengan Mengingat Firman

Keserakahan dapat membawa kita pada penyembahan berahala, karena pikiran kita sudah tidak berfokus pada cinta akan Tuhan lagi. Untuk dapat melawan iblis ini Cassians menganjurkan kita untuk terus menerus mengingat dalam pikiran kita contoh-contoh didalam Alkitab seperti Ananias dan Safira, kita harus bergidik memikirkan untuk menjaga diri kita sendiri dari dari harta apapun. Untuk dapat mengingat Firman kita harus membacanya terlebih dahulu. Membaca Kitab Suci ibarat kita sedang membuka pintu surga sebab Kitab Suci adalah Firman Allah dalam bahasa manusia yang memberi kita kunci menuju surga.

Ada tiga level membaca Alkitab yang dapat dilakukan untuk kita bisa mengingat Firman dan melakukan Firman. Pertama, level kognitif. Kognitif atau otak kita mendapatkan ide melalui interaksi akal budi dan perkataan kita dengan Firman Allah.[35] Namun disaat yang bersamaan ada begitu banyak informasi dan ajaran yang masuk dalam kognitif yang bisa bersifat destruktif . Ajaran sesat dan persepsi kita yang salah menangkap berbagai informasi menjadi tantangan bagi kognitif ketika kita sedang membaca Alkitb. Sebab itu Rasul Paulus menasihati kita supaya berhati-hati jangan ada yang menawan  kita dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut tradisi turun temurun dan roh-roh dunia tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8). Maka dari itu kita perlu terus menerus memperbaharui akal budi kita dengan terus mempelajari Firman Tuhan setiap hari.

Kedua level afektif.  Pada level ini apa yang ditangkap di level kognitif diturunkan ke hati kita karena disitulah konsep atau pemahaman kita akan Firman Allah dimatangkan atau dijiwai atau dihayati. Doa merupakan cara terbaik untuk mengintegrasikan kognitif dan afektif, dimana pikiran kita dapat berjumpa dengan Allah dan mendengarkan Dia secara pribadi. Kita akan menangkap keinginan Allah yang haru dibuahi menjadi perbuatan atau tindakan nyata.[36] Kita harus dipimpin oleh Roh Kudus sehingga keinginan Allah dapat kita lakukan dan sekaligus menyalibkan keinginan daging kita (Galatia 6:16-25).

Ketiga level psikomotorik.  Pada level ini Roh Kudus akan menuntun hari supaya roh kita menguasai tubuh dan menggerakan seluruh kekuatan untuk melakukan keinginan Allah ang ada dalam hati kita. Disinilah iman termanifestasi dalam perbuatan sehingga iman menjadi hidup. Namun pada saat yang bersamaan, godaan iblis datang menyerang dalam berbagai cara dan wujud seperti penderitaan dan aniaya dari musuh bahkan yang tersembunyi sekalipun seperti kesombongan.[37] Sebab itu pada level ini kita membutuhkan kerendahan hati dan belas kasihan Allah bahwa semua perbuatan kita berasal dari Allah yang bekerja di dalam diri kita (1 Korintus 15:10; Filipi 2:13).

  1. Kemarahan Dengan Kesabarn

Billy Graham mengatakan, ‘’Sifat pemarah dikecam keras oleh Gereja dan dicela oleh Alkitab. Amarah dapat menyebabkan orang tega menista, menyerang malahan membunuh orang lain. Jadi, amarah mendatangkan akibat yang tidak di ingini atas badan maupun batin korbannya. Reaksinya seperti peluru senapan yang memantul kadang-kadang berbalik mengenai orang yang menembaknya. Jadinya sama-sama binasa baik penembak maupun yang ditembak.[38]’’

Amarah menimbulkan banyak perselisihan dan bencana dalam dunia ini, maka Allah sangat membencinya.[39] Mazmur 37:8 mengatakan: ‘’berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.’’ Yesus juga dengan gamblang menggolongkan amarah dalam dosa keji, yakni dosa membunuh. Dalam Matius 5:22 Ia berkata: ‘’Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus di hukum;… dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.’’

Cassians mengatakan bahwa amarah harus kita hindari tidak hanya dalam apa yang kita lakukan tetapi juga dalam pikiran kita. Untuk melawan iblis ini kita harus berjuang dengan semua kekuatan kita. Tuhan ingin kita menghapus akar kemarahan, percikannya, sehingga untuk berbicara, dengan cara apapun yang kita bisa, dan tidak menyimpan satupun alasan untuk marah dalam hati kita. Cassians mengatakan juga bahwa kita tidak boleh marah untuk alasan apapun. Karena ketika iblis kemarahan menggelapkan pikiran, kita tidak memiliki cahaya diskriminasi, atau keyakinan akan penghakiman yang benar, atau bimbingan kebenaran dan jiwa kita tidak dapat menjadi bait Roh Kudus. Kita harus selalu ingat ketidaktahuan kita tentang waktu kematian kita, sehingga kita harus menjaga diri kita dari kemarahan dengan kesabaran.[40]

  1. Kekecewaan Dengan Pertobatan

Iblis kekecewaan mengaburkan kapasitas jiwa kita untuk kontemplasi spritual dan menjauhkannya dari semua perbuatan baik. Untuk melawan dosa ini Cassians mengatakan dengan pertobatan. Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang lahir dari hati yang menangis dan meratapi dosa-dosanya. Bapa Gereja Symeon the New Theologian mengatakan,

Let no one deceive you with vain words” (Ephesians 5:6), and let us not deceive ourselves: before we have experienced inward grief and tears there is no true repentance or change of mind in us, nor is there any fear of God in our hearts, nor have we passed sentence on ourselves, ourselves, nor has our soul become conscious of the coming judgment and eternal torments.[41]

Pertobatan membawa kita masuk  ke dalam level spritualitas yang menolak terhadap segala keinginan daging, iblis, dan diperbaharui oleh Roh Kudus.[42] Dengan pertobatan kita menjadi manusia rohani yang terus bertumbuh dalam Kristus (1 Korintus 3:1-3; Efesus 4:13, 15; Ibrani 5:11-14; 1 Petrus 2:2; 2 Petrus 3:18). Dan hasil pertumbuhan ini adalah ‘’kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dan kemuliaan yang semakin besar’’ (2 Korintus 3:18).

  1. Kelesuan Dengan Doa, Kesabaran, Dan kerja Keras

Iblis kelesuan ini bekerja bergandengan tangan dengan iblis kekecewaan. Cassians mengatakan bahwa iblis ini adalah iblis yang keras dan mengerikan, membuat kita lemas, tidak suka membaca Kitab Suci, sering lari dari pekerjaan yang diberikan. Mencari-cari alasan untuk tidak bekerja dengan menyibukan diri yang seakan-akan ia bekerja. Penyakit ini dapat di hilangkan dengan menundukannya melalui doa.

Para Bapa Gereja memberikan pengertian tentang doa yang dikutip dari Konsep Doa Menurut bapa-Bapa Gereja Philokalia dan Aplikasinya Bagi Gereja Masa Kini, oleh Riskan sebagai berikut: Doa adalah persekutuan dengan Allah. Terlebih dahulu tubuh, jiwa dan roh inilah yang harus tenang sehingga dapat berinteraksi dengan Allah. Dan dalam keadaan itu pikiran harus di turunkan ke dalam hati atau batin ini, sehingga dapat menjumpai Allah yang ada disana. Orang percaya dapat berbicara, berbagai beban, dan membangun hubungan yang erat dengan Dia hanya melalui doa.[43]

Matius 6:6 Yesus mengatakan ‘’Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada ditempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu’’. Tujuan berdoa adalah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Gregory juga mengatakan hal demikian, ‘’intimate personal relationship with God. Being in awareness of real presence of God. Not some simple one way communication. More than words or thoughts’’.[44]

Ketika kita berdoa kita harus memusatkan pikiran kita kepada Tuhan karena dengan doa kita sedang bergabung dengan energi Tuhan yang tak tercipta. Paulus mengatakan dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika untuk ‘’Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17)’’, ini adalah tugas semua orang kristen. Gregory mengatakan bahwa semua orang kristen harus mengatakan nama Tuhan lebih sering dalam doa daripada bernafas.[45] Gregory juga mengatakan ‘’ True prayer is not a simple habit. ! A gif fom God that is acquired through prayer. ! Has as its beginning in infinite love for God – divine eros.! How we really get rid of bad habits & gain good ones. !’’. seperti yang ia katakan juga mengenai tujuan doa dalam bukunya Jesus Prayer Bring concentration to the mind and detach it from its domination by objects of the physical world gained through the senses.! Liberate the soul from the passions of the body! Bring us back to a unity with God’’.[46] 

Maka dari itu doa menjadi sangat penting untuk melawan iblis kelesuan. Tidak hanya melalui doa, tetapi juga melalui kesabaran dan kerja keras. Setelah berdoa kita harus bekerja keras untuk apa yang kita doakan, melawan iblis kelesuan. Dan dengan sabar kita bekerja keras sambil berdoa, hingga kita dapat mengalahkan iblis kelesuan atau kemalasan dalam diri kita.

  1. Harga Diri Dengan Mengingat Firman

Cassians mengatakan bahwa iblis harga diri adalah sebuah hasrat yang beraneka ragam dan halus yang tidak mudah dirasakan oleh orang yang dicobainya. Sulit untuk dilawan karena ia memiliki banyak bentuk dan muncul dalam semua kegiatan kita. Dalam cara kita berbicara, dalam apa yang kita katakan, dalam keheningan, tempat kerja, dalam berjaga-jaga dan puasa, dalam doa dan membaca, keheningan dan panjang sabar. Melalui semua ini ia berusaha menjatuhkan prajurit Kristus. Setiap tugas, setiap aktivitas memberi iblis jahat ini kesempatan.[47]

Untuk dapat melawan iblis jahat ini Cassians mengatakan harus berusaha dengan segala cara untuk mengatasi iblis yang mengasumsikan bentuk-bentuk bervariasi. Pertama dengan selalu mengingat Firman. Mengingat kata-kata Daud ‘’ Tuhan telah mencerai-beraikan tulang-tulang orang-orang yang menyenangkan manusia (Mazmur 53:5). Dengan selalu mengingat kata-kata ini kita selalu diingatkan bahwa seharusnya kita tidak melakukan apapun dengan maksud dipuji oleh orang lain, melainkan untuk mencapai pahala dari Tuhan, dengan begitu kita telah menolah pikiran-pikiran puji diri yang masuk kedalam hati kita dan selalu menganggap diri tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Dengan cara ini kita dibebaskan dengan bantuan Tuhan dari iblis harga diri.[48]

  1. Kesombongan Dengan Kerendahan Hati

Kesombongan adalah dosa yang paling jahat, paling ganas dari semua yang telah dibicarakan diatas. Dia menyerang dan berusaha menghancurkan mereka yang telah naik hampir ke ketinggian kekudusan. Sama seperti wabah ia tidak menghancurkan satu anggota tubuh tapi keseluruhannya, begitu kesombongan merusak seluruh jiwa ia menggelapkan jiwa sepenuhnya dan mengarah pada kejatuhan total.

Untuk dapat melawan dosa kesombongan Cassians mengatakan dengan kerendahan hati. Agustus mengatakan kerendahan hati berarti orang yang miskin dalam roh atau takut akan Tuhan. Chrysostom mengatakan bahwa, orang yang miskin dalam roh adalah mereka yang takut dan gentar akan perintah-perintah Tuhan. Merekalah yang hanya mencari kerajaan surga.[49] Yesus mengatakan dalam Matius 5:3 ‘’Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan sorga’’. Gloss mengatakan bahwa, kekayaan surga secara pantas dijanjikan kepada mereka yang pada saat ini berada dalam kemiskinan.[50]

Kita sadar akan bahaya dari iblis kesombongan yang mematikan kita harus merasa takut dan menjaga hati dengan perhatian yang ekstrim dari iblis kesombongan yang mematikan. Ketika kita mencapai tingkat kekudusan tertentu kita harus selalu mengulangi kepada diri kita apa yang dikatakan rasul ‘’tetapi bukan aku, tetapi kasih karunia Allah yang menyertai aku (1 Korintus 5:10)’’ serta apa yang dikatakan oleh Tuhan ‘’tanpa Aku kamu tidak dapat melakukan apa-apa (Yohanes 15:5). Kita hanya dapat mendekati kesempurnaan melalui belas kasihan dan kasih karunia Kristus. Semua bapa Gereja mengetahui hal ini dan dengan pengetahuan mengajarkan bahwa kesempurnaan dalam kekudusan dapat dicapai hanya melalui kerendahan hati. Kerendahan hati dapat dicapai hanya melalui iman, takut akan Tuhan, kelembutan, dengan cara inilah kita mencapai cinta yang sempurna, melalui rahmat dan belas kasihan Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah kemuliaan segala zaman.[51]

Hasil Pemurnian Jiwa

Anak-anak Allah

Dalam 1 Yohanes 2:28-3:10 dengan perikop anak-anak Allah Yohanes menguraikan tentang seperti apa anak-anak Allah itu. Hendi dalam bukunya ‘’Inspirasi Batin’’ memaparkan konsep anak-anak Allah menurut 1 Yohanes 2:28-3:10 demikian:

Anak-anak Allah berarti:

  1. tinggal di dalam Kristus;
  2. memiliki keberanian percaya dan tidak usah malu pada Kristus pada saat kedatangan- Nya;
  3. melakukan kebenaran;
  4. lahir dari Kristus;
  5. menerima kasih Allah;
  6. dunia tidak mengenalnya;
  7. akan menjadi sama seperti Kristus pada saat Kristus menyatakan diri-Nya kelak;
  8. menaruh harapan di dalam Kristus; dan
  9. memurnikan dirinya menyerupai Kristus;
  10. tidak berbuat dosa atau melanggar hukum Allah;
  11. tinggal, melihat, dan mengenal Kristus;
  12. melakukan kebenaran sama seperti Kristus
  13. mn                            lahir dari Allah
  14. tidak terus menerus berbuat dosa
  15. benih ilahi berada di dalam dia
  16. tidak dapat berbuat dosa
  17. mengasihi sesama[52]

Anak-anak Allah adalah kita yang telah menerima kasih Allah sehingga kita tinggal di dalam Kristus dan menaruh harapan di dalam Kristus untuk melakukan kebenaran atau perintah Kristus atau memurnikan diri menjadi serupa dengan Kristus yang dunia tidak mengenalnya sehingga pada akhirnya yakni kedatangan Kristus kita akan menyerupai-Nya dengan keberanian percaya dan tidak mali berhadapan dengan-Nya.

Kita telah menerima kasih Allah yang membuat kita menjadi anak-anak Allah yang hidup. Anak-anak Allah yang hidup adalah kita yang terus menerus mnuruti firman Allah seperti yang ditulis oleh Yohanes bahwa barangsiapa menuruti firman-Nya, didalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui kita ada didalam Dia (1 Yohanes 2:5). Dan siapa yang mengataka bahwa ia ada di dalam Dia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup ( 1 Yohanes 2:6).

Sehingga kita yang menjadi anak-anak Allah disebut tinggal di dalam Kristus, lahir dari Kristus, menaruh harapan di dalam Kristus, memurnikan diri kita menyerupai Kristus, dan menjadi sama seperti Kristus pada saat Kristus menyatakan diri-Nya kelak. Dengan demikian Kristus menjadi pusat hidup dan model atau teladan anak-anak Allah baik pada masa hidup sekarang di dunia maupun pada masa kekekalan setelah kedatangan Kristus kali kedua atau masa penghakiman berakhir.[53]

Jika Kristus menjadi teladan hidup anak-anak Allah, kita wajib melakukan kebenaran sebab siapa yang melakukan kebenaran adalah benar sama seperti Kristus adalah benar (1 Yohanes 2:29; 3:7; Yohanes 14:6). Melakukan kebenaran berarti melakukan perintah-perintah atau firman Allah (1 Yoh 2:5) bukan melakukan dosa yang melanggar perintah atau hukum Allah (3:4,7,8) sehingga kita disebut juga lahir dari Allah (3:9). Melakukan kebenaran menjadi tanda anak-anak Allah (3:10) sehingga kita tidak terus menerus berbuat dosa sebab benih ilahi tetap ada di dalam kita dan kita tidak dapat terus menerus berbuat dosa karena kita lahir dari Allah (3:9).[54]

Tanda kita adalah anak-anak Allah yaitu kita melakukan kebenaran. Hendi dalam bukunya ‘’Inspirasi batin’’ memaparkan tentang melakukan kebenaran demikian: Melakukan kebenaran berarti melakukan perintah Allah yakni saling mengasihi bukan saling membenci (1 Yoh 2:7-11; Yoh 15: 12,17). Kasih yang harus kita bagikan adalah model kasih Kristus yakni Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita sehingga kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk sesama (1 Yoh 3:16). Ada unsur pengorbanan (menyerahkan nyawa atau mati di atas kayu salib), ketaatan kepada Allah (Yesus diutus oleh Allah), kehidupan (menyelamatkan, pendamaian bagi dosa-dosa, membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis) serta relasional (untuk manusia) di dalam kasih Kristus. Begitu juga kasih kita kepada sesama yang mengandung unsur-unsur tersebut. Kasih itu ketaatan pada perintah Allah, mengorbankan diri, relasional dengan orang lain, dan membuat orang lain menjadi hidup.[55]

               1 Yohanes 3:16-17 menjelaskan bahwa puncak kasih adalah pengorbanan diri. Puncak kasih Allah adalah mengorbankan Kristus di atas kayu salib. Begitu juga dengan manusia. puncak kasih kita adalah ketika kita mengobankan nyawa kita untuk orang lain. Dalam 1 Yohanes 3:18, Yohanes mengatakan bahwa mengasihi bukan dengan perkataan kita saja tetapi dengan perbuatan kita dalam kebenaran. Mengasihi sesama berarti melakukan sesuatu bagi sesama (kasih dengan perbuatan bukan perkataan) sehingga dia memiliki kehidupan (kasih dalam kebenaran).[56] Tanda kasih seperti inilah membuktikan kita adalah anak-anak Allah yang berasal dari Allah.

Jadi pemurnian jiwa merupakan salah satu cara untuk mengerjakan keselamatan yang harus dilakukan oleh semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Karena dengan memurnikan jiwa manusia dapat menjalani kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus. Yaitu dengan tidak mengikuti keinginan daging, tetapi menjadikan Kristus sebagai model untuk menjalani kehidupan sebagai anak-anak Allah.

KESIMPULAN

 Pemurnian jiwa adalah salah satu cara untuk mengerjakan keselamatan orang percaya. Jiwa perlu dimurnikan karena didalam jiwalah tempat manusia bertemu dengan Allah. Melihat pentingnya pemurnian jiwa John Cassians memberikan delapan langkah untuk memurnikan jiwa. Yaitu dengan melawan delapan iblis yang ada di dalam diri manusia. Antara lain, kerakusan, seksual, keserakahan, kemarahan, kekecewaan, kelesuan, harga diri dan kebanggaan. Delapan iblis ini harus dilawan dalam diri setiap orang percaya untuk dapat memurnikan jiwa.

Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia hidup terpisah dari Allah. Di dalam tubuh manusia kini terdapat hukum dosa yang membuat manusia mencintai dirinya sendiri. delapan kejahatan merupakan hasil dari cinta diri manusia. Untuk dapat melawan delapan kejahatan dalam diri orang percaya, orang percaya harus melakukan askesis atau disiplin rohani. Askesis merupakan latihan bagi orang percaya untuk dapat melawan keinginan daging, dosa dan segala bentuk tipuan iblis.

Ada berbagai macam askesis yang dapat dilakukan oleh orang percaya untuk melawan delapan kejahatan. Kerakusan dengan Kontrol perut. Ketidaksucian dan keinginan daging dengan pengendalian diri dan berjaga-jaga dalam pikiran. Keserakahan dengan mengingat Firman, kemarahan dengan kesabaran. Kekecewaan dengan mengembangkannya terhadap dosa dengan pertobatan dan pengharapan pada Tuhan, kelesuan dengan doa, pelajari Alkitab dan sabar. Harga diri dengan mengingat Firman dan menganggap diri tidak ada apa-apa di hadapan Tuhan dan kesombongan dengan kerendahan hati.

Ketika orang percaya dapat melawan iblis-iblis ini dengan berbagai macam askesis maka akan memberikan bukti bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Jika tidak itu menunjukan mereka bukan anak-anak Allah melainkan mereka anak iblis meskipun mereka mengaku percaya kepada Kristus. Sebab anak-anak Allah adalah orang yang telah menerima kasih Allah, tinggal di dalam Kristus dan menaruh harapan pada Kristus untuk melakukan kebenaran untuk menjadi serupa dengan Kristus. Sebagai anak-anak Allah yang hidup kita terus-menerus menuruti Firman Allah, dan Kristus menjadi teladan kita untuk hidup. Tetapi jika tidak demikian, meskipun kita mengaku mempercayai Allah sebenarnya kita adalah anak-anak iblis sebab kita tidak hidup dengan menuruti firman. Kita hidup dengan terus-menerus berbuat dosa, meneladani apa yang iblis lakukan dengan dunia yang sedang lenyap dengan keinginannya.

Jadi pemurnian jiwa merupakan salah satu cara untuk mengerjakan keselamatan yang harus dilakukan oleh semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Karena dengan memurnikan jiwa manusia dapat menjalani kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus. Yaitu dengan tidak mengikuti keinginan daging, tetapi menjadikan Kristus sebagai model untuk menjalani kehidupan sebagai anak-anak Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Aquinas Thomas, Catena Aurea, Capter 5, 22 November 2018

https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-104.shtml#_Toc384507004.

Berkhof Louis, Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia. Surabaya: Momentum, 2011.

Coniaris Anthony M. The Philokalia: The Bible of Orthodox Sprituality. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 1998.

Duha Riskan Marliana, Konsep Doa Menurut bapa-Bapa Gereja Philokalia dan Aplikasinya Bagi Gereja Masa Kini, Purwokerto: 2018.

Graham Billy, Bebas dari Tujuh Dosa Maut Jakarta: Yayasan Komunikasih Bina Kasih, 2014.

Hendi, ‘’Inspirasi Batin’’. Yogyakarta: Leutikaprio, 2017.

Hendi, ‘Pemurnian Jiwa dan Tubuh.’’ Dalam Artikel Kuliah Teologi PB dan Studi PB.

Hendi, Lemari Batin,’’ September 16, 2018.

http://hendisttrii.wordpress.com;

Hendi, Hukum Dosa, 27 September 2018

http://hendisttrii.wordpress.com;

Hendi, Tiga Level membaca Alkitab, 15 November 2018.

http://hendisttrii.wordpress.com;

Hendi, Pertobatan di dalam Philokalia, 22 November 2018.

http://hendisttrii.wordpress.com;

Makarios of corinth and Nikodemos of The Holy Mountain, The Philokalia, Volume 1. London: Faber and Faber, 1984.

Makarios of corinth and Nikodemos of The Holy Mountain, The Philokalia, Volume IV. London: Faber and Faber, 1984.

PHILOKALIA bagi Kaum Awam.

Palamas Gregory, Life and Death (www.stgeorgegreenville.org).

Palamas Gregory, Prayer (www.stgeorgegreenville.org).

Palamas Gregory, Jesus Prayer (www.stgeorgegreenville.org).

Saumana Christiefani Yuneita, Konsep Askestisme Menurut Bapa-Bapa Gereja Philokalia dan Implikasinya Bagi Orang Percaya, Purwokerto: 2018.

Symeon the New Theologian, The Philokalia, Vol. 4, Practical and Theological Texts, sec. 69.

 

 

[1]StJohn Cassian, yang sering ditata ‘Kassian Romawi’ dalam sumber-sumber Yunani, lahir sekitar tahun 360, mungkin di Roman Scythia. Sebagai pemuda, dia bergabung dengan sebuah biara di Betlehem, tetapi sekitar 3 8 s-6 dia bepergian dengan temannya Germanos ke Mesir, di mana dia tinggal sampai 399, menjadi murid Evagrios. Selama 401-5 dia berada di Konstantinopel, di mana dia ditahbiskan sebagai diaken; di sini ia menjadi murid dan pendukung setia St John Chrysostom. Pada 40-an ia melakukan perjalanan ke Barat, yang tersisa selama beberapa tahun di Roma dan kemudian pindah ke Gaul. Baik di Roma atau di Gaul dia ditahbiskan sebagai imam. Sekitar 41 s ia mendirikan dua biara dekat Marseilles, satu untuk pria dan yang lainnya untuk wanita. Dua karya utamanya adalah Institut dan Konferensi, keduanya ditulis dalam bahasa Latin sekitar tahun 42 s-8. Dalam Kassian ini meringkas ajaran spiritual yang telah diterimanya di Mesir, mengadaptasinya dengan kondisi-kondisi Barat yang agak berbeda. Tulisan-tulisannya melakukan pengaruh formatif pada monastisisme Latin dan secara khusus dipuji dalam Rule ofSt Benedict. Cassian meninggal sekitar 4 3 s dan diperingati di Gereja Ortodoks sebagai santo, hari-hari perayaannya jatuh pada 29 Februari. St Nikodimos termasuk dalam Philokalia, ringkasan Yunani dari bagian-bagian tertentu dari tulisan-tulisan utama Cassian. Teks pertama, On the Eight Vices, diambil dari Institutes, Books V -XII; teks kedua, On the Ho! J Fathers jika Sketis dan tentang Diskriminasi, berasal dari Coriference, Books I-II. Dalam kedua kasus, versi Yunani sangat menyingkat bahasa Latin aslinya.

[2] Orthodoks berasal dari dua kata Yunani: Orthos, artinya benar/lurus dan Doxa artinya kepercayaan/ajaran. Jadi Orthodox adalah ‘’kepercayaan/ajaran yang benar/lurus’’. Gereja Orthodox didirikan oleh para Rasul Yesus Kristus sendiri.

[3] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia, Volume 1 (London: Faber and Faber, 1984), 13-14.

[4] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia, Volume IV (London: Faber and Faber, 1984), 70.

[5] Hendi, ‘’Inspirasi Batin’’ (Yogyakarta: Leutikaprio, 2017), 43-45.

[6] Hendi, ‘’Artikel Kuliah Teologi PB dan Studi PB: Pemurnian Jiwa dan Tubuh,’’ 1-4.

[7] Hendi, Lemari Batin, 1.

[8] PHILOKALIA Untuk Kaum Awam, 15.

[9] PHILOKALIA Untuk Kaum Awam, 15.

[10] PHILOKALIA Untuk Kaum Awam, 15.

[11] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia, Volume IV, 73.

[12] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia, (Surabaya: Momentum, 2011), 90.

[13] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia, 90-91.

[14] Gregory palamas, Life and Death (www.stgeorgegreenville.org).

[15] Gregory palamas, Life and Death. (www.stgeorgegreenville.org).

[16] Gregory palamas, Life and Death. (www.stgeorgegreenville.org).

 

[17] Philokalia bagi kaum awam, 5.

[18] Dapat di lihat http://hendisttrii.wordpress.com; internet 27 September 2018

[19] Hendi, Hukum Dosa, http://hendisttrii.wordpress.com (diakses 27 September 2018)

[20] Hendi, Hukum Dosa, http://hendisttrii.wordpress.com (diakses 27 September 2018)

[21] Orthodox spirituality, 10.

[22] Hendi, Hukum Dosa, http://hendisttrii.wordpress.com (diakses 27 September 2018)

[23] Orthodox spirituality, 10.

[24] Hendi, Hukum Dosa, http://hendisttrii.wordpress.com (diakses 27 September 2018)

[25] Hendi, Hukum Dosa, http://hendisttrii.wordpress.com (diakses 27 September 2018)

[26] Anthony M Coniaris. The Philokalia: The Bible of Orthodox Sprituality, 10.

[27] Christiefani Yuneita Saumana, Konsep Askestisme Menurut Bapa-Bapa Gereja Philokalia dan Implikasinya Bagi Orang Percaya, (Purwokerto: 2018), 97.

[28] Orthodox Spiritualy 10.

[29] Billy Graham, Bebas dari Tujuh Dosa Maut (Jakarta: Yayasan Komunikasih Bina Kasih, 2014), 59-60.

[30] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware. 71.

[31] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware. 71.72

[32]St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware. 71.72

[33]Philokalia bagi Kaum Awam, 4.

[34] Philokalia bagi Kaum Awam, 4-5.

[35]Hendi, Tiga Level Membaca Alkitab http://hendisttrii.wordpress.com; internet (di akses 15 November 2018)

[36] Hendi, Tiga Level Membaca Alkitab http://hendisttrii.wordpress.com; internet (di akses 15 November 2018)

[37] Hendi, Tiga Level Membaca Alkitab http://hendisttrii.wordpress.com; internet (di akses 15 November 2018)

[38] Billy Graham, Bebas dari Tujuh Dosa Maut, 22.

[39] Billy Graham, Bebas dari Tujuh Dosa Maut, 22.

[40] [40]St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware, 81-82.

[41] St. Symeon the New Theologian, The Philokalia, Vol. 4, Practical and Theological Texts, sec. 69.

[42] Hendi, Pertobatan di dalam Philokalia Dapat dilihat http://hendisttrii.wordpress.com; internet di akses, 22 November 2018.

[43] Riskan Marliada Duha, Konsep Doa Menurut bapa-Bapa Gereja Philokalia dan Aplikasinya Bagi Gereja Masa Kini, (Purwokerto: 2018), 63-64.

[44] Gregory Palamas, Prayer, 2.

[45] Gregory Palamas, Prayer, 5 (www.stgeorgegreenville.org)

[46] Gregory Palamas, Jesus Prayer, 4.

[47] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware, 85.

[48] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware, 85.

[49] St, Thomas Aquinas, Catena Aurea, Capter 5, 2, https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-104.shtml#_Toc384507004 (diakses 22 November 2018)

[50]St, Thomas Aquinas, Catena Aurea, Capter 5, 1-2, https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-104.shtml#_Toc384507004 (diakses 22 November 2018)

[51] St. Nikodemos of The Holy Mountain and St. Makarios of corinth, The Philokalia. Volume 4. Diterjemahkan oleh G. E. H. Palmer, Philip Sherrard, dan Kallistos Ware, 86-87

[52] Hendi, Inspirasi Batin, 168-169.

[53]Hendi, inspirasi Batin, 169.

[54] Hendi, inspirasi Batin,170

[55] Hendi, Inspirasi batin, 170

[56] Hendi, Inspirasi batin, 170

Hope

Harapan?

tidak semudah yang kita pikirkan,

karena harapan setiap orang bergantung dari situasi yang ia alami.

ketika ia sakit ia tidak mengharapkan kekayaan atau apapun selain kesembuhan.

Situasi Anda menentukan harapan Anda.

meskipun demikian tidak sedikit orang yang kehilangan harapan,  karena merasa harapan tidak ada lagi.

ketika harapan hilang hidup-pun akan hilang.

Jagalah harapan Anda, jangan sampai Anda kehilangan kehidupan karena merasa tidak memiliki harapan lagi.

 

LOOK BACK

Aku kembali menengok kebelakang

kembali aku melihat dan mempelajari serta bersyukur untuk apa yang telah terjadi disana. Sedikit ada penyesalan untuk hal buruk yang aku lakukan. Sedikit terguncang mengingat masa itu. Tetapi satu hal yang katakan dan terus aku perjuangkan adalah pentingnya masa sekarang dan masa akan datang ketimbang yang sudah-sudah.

Aku bersyukur untuk kesalahan yang aku lakukan kemarin karena dengan begitu aku lebih waspada kedepannya. Aku bersyukur untuk kebahagiaan yang telah berlalu kemarin, karena itu menjadi hiburan ketika aku bersedih dihari depan. Aku bersyukur untuk kesedihan yang aku rasakan kemarin, karena itu menjadi kekuatan untuk aku bertahan.

Apapun yang akan terjadi kedepannya aku tidak akan menyesalinya.

Aku akan bersyukur dan terus belajar untuk kejadian-kejadian yang akan datang dimasa depan. 🙂

Terimakasih untuk kemarin.